![]() |
| Tim Basarnas membacakan doa untuk korban bangunan mushala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny. (Antaranews) |
Kaltengmaju.com – Delapan hari operasi penyelamatan di reruntuhan bangunan empat lantai Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, meninggalkan jejak mendalam bagi tim SAR gabungan. Di tengah puing beton berat dan struktur bangunan yang rapuh, mereka bekerja tanpa henti sejak Senin, 29 September, untuk mengevakuasi para santri yang tertimbun.
Sebanyak 375 personel gabungan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan bekerja siang malam dengan peralatan manual, karena penggunaan alat berat sempat dilarang akibat risiko pergeseran struktur. Upaya dramatis pun dilakukan, termasuk membangun terowongan sempit dan membawa dokter masuk untuk melakukan amputasi di bawah reruntuhan demi menyelamatkan korban hidup.
Dalam 72 jam pertama, dua santri — Syaifur Rozi dan Nur Ahmad — berhasil diselamatkan meski harus kehilangan anggota tubuh. Namun setelah waktu krusial itu berlalu, tanda-tanda kehidupan semakin menipis. Kondisi fisik dan mental tim SAR pun diuji berat oleh tekanan emosional dan kelelahan ekstrem.
Dukungan warga setempat, dapur umum, hingga kehadiran psikolog membantu menjaga semangat para petugas. Hingga akhirnya, setelah delapan hari, tim berhasil mengevakuasi 171 korban, terdiri atas 104 santri selamat dan 67 meninggal dunia.
Operasi dinyatakan selesai pada 7 Oktober 2025 oleh Kepala Basarnas Mohammad Syafii, yang menyebut misi ini sebagai salah satu operasi paling berat dan dengan korban terbanyak sepanjang tahun. Tim DVI Polri masih bekerja mengidentifikasi 60 jenazah korban.
Tragedi ini menjadi pelajaran besar bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan pembangunan fasilitas pendidikan, khususnya pesantren, agar keselamatan santri tidak lagi terancam oleh kelalaian teknis konstruksi.
Sumber: Antaranews
%20Al%20Khoziny.%20(Antaranews).jpg)